Bagi rekan-rekan yang dinyatakan tidak
lolos SNMPTN jangan berkecil hati sob, masih ada jalur SBMPTN sama UM yang
dapat rekan-rekan ikuti demi berkuliah di kampus impian. Oke gak usah
lama-lama, pada kesempatan ini saya mau berbagi tips agar rekan-rekan lolos
dalam SBMPTN. Tulisan berbagi tips ini berdasarkan pengalaman saya yang telah
mengikuti SBMPTN selama dua kali, jadi pure subjektif menurut pendapat saya
pribadi hehehe
Niat
Tidak dipungkiri bahwa dalam setiap
kegiatan yang akan kita lakukan harus didasarkan atas niat yang kuat. Niat yang
kuat akan selalu menjadi pemicu kita dalam melaksanakan berbagai hal dengan
maksimal termasuk di dalamnya mengikuti SBMPTN. Tanpa didasari niat yang kuat
dalam rangkain persiapan menuju SBMPTN, rekan-rekan akan cenderung tak acuh dan
abai terhadap apa saja yang mesti disiapkan. Oleh karenanya pada saat hari H
pelaksanaan rekan-rekan akan mengerjakan soal dengan asal-asalan karena tanpa
persiapan sama sekali, dan pada akhirnya akan menyesal. Jadi niat itu utama ya
sob!
Pilih jurusan yang relevan
Tips ini sih relatif ya
hehehe (karena saya sendiri murtad dalam memilih jurusan). Nih kartu peserta
SBMPTN saya
Gambar kartu peserta SBMPTN 2015
Gambar kartu peserta SBMPTN 2016
Tapi percaya deh, pilih
jurusan yang relevan dari pendidikan yang kita tempuh sebelumnya lebih
memungkinkan kita untuk diterima. Misalnya rekan-rekan yang berasal dari SMA
IPA pilihlah jurusan yang relevan, contohnya jurusan-jurusan teknik, kesehatan,
mipa, pertanian, dll. Walaupun pilih jurusan sosial-humaniora juga tidak ada yang melarang sih. Tapi keuntungan dalam memilih jurusan yang relevan dengan pendidikan
sebelumnya adalah kita lebih menguasai materi atau setidaknya soal-soal yang
ditampilkan lebih familiar dengan kita.
Oh iya ada juga
stereotype (saya bilang sih begitu) bagi anak-anak IPA yang pilih soshum dalam
SBMPTN, bahwa mereka tidak memilih saintek karena katanya lebih “susah” dalam hal
pengerjaan soalnya dibandingkan soshum. Menurut saya permasalahan
susah-gampang itu relatif. Yang menjadi perhatian saya sih ada kecenderungan
rekan-rekan melihat dari tipe soal yang dikerjakan, saintek dianggap susah
biasanya karena kita udah ngeri pas liat soalnya karena begitu banyak angka,
jadi akhirnya nyerah duluan sebelum mulai mengerjakan. Tapi saat lihat soal
soshum kelihatannya gampang karena tidak ada angka-angka seperti saintek, nah
itu lah yang mengecoh. Kita akan jawab soal soshum dengan banyak karena
jawabannya bisa atas dasar “asumsi” kita yang paling benar (ngerasa ngisi
jawaban yang bener padahal salah, soal-soal soshum biasanya gitu), itulah yang
menyebabkan kita terperosok ke dalam jurusan ketidaklolosan hehehe. So,
usahakan pilih yang relevan aja ya sob!
Tenang,
gak usah panik!
Percaya deh ini mujarab
banget. Sepintar apapun rekan-rekan jika mengerjakan soal dalam keadaan panik
nggak karuan itu dipastikan tidak maksimal. Itulah yang saya rasakan waktu
mengikuti SBMPTN 2015 yang merupakan seleksi pertama saya. Udah otak
biasa-biasa aja, pilih jurusan tidak relevan, ditambah panik, lengkaplah sudah.
SBMPTN pertama ini, saya mengerjakan soal dihantui dengan ketatukan akan gagal
seperti yang terjadi di SNMPTN, dalam pikiran saya saat itu yang ada hanyalah
‘harus lolos’ ‘harus lolos’ dan ‘harus lolos’. Selain itu juga entah mengapa
saat melihat sesorang yang belajar sesaat sebelum masuk ruang ujian itu membuat
saya panik. Ditambah lagi saat berangkat dari rumah menuju lokasi ujian dengan
menggunakan bis entah mengapa rute bis itu jadi berubah, alhasil saya harus
lari-lari dari Museum Geologi Bandung ke lokasi ujian saya saat itu SMPN 14,
anjirr ini asli. Intinya waktu mengerjakan soal SBMPTN pertama saya diliputi
oleh perasaan panik, capek, dan nggak karuan. Alhasil saya hanya mampu diterima
di pilihan ketiga saja.
Gambar hasil SBMPTN 2015
Lain halnya saat
mengikuti SBMPTN 2016 yang notabennya adalah seleksi kedua saya. Saat pelaksanaan
saya merasa sangat enjoy, asli. Tidak memikirkan kuantitas soal yang mampu saya
kerjakan, intinya saya hanya mengerjakan soal yang saya anggap bisa dan mampu
mengerjakannya. Justru yang membuat saya panik bukanlah perasaan akan saya
‘harus lolos’ dalam seleksi ini tetapi saat bertemu dosen saya yang menjadi
pengawas SBMPTN (maklum takut ditanya kenapa ikutan lagi). Selain itu yang
membuat saya nggak enak adalah ketika orang lain di dalam ruangan yang sama
masih pada serius mengerjakan soal sedangkan saya udah celingak-celinguk pengin
keluar, dikira pengawas saya itu joki SBMPTN kali ya soalnya Bapak sama Ibu
pengawas liatin terus hehehe. Oh iya satu lagi karena waktu itu ada jadwal
ngampus jam 09.00 pagi, itu juga yang membuat saya nggak tenang (maklum
teman-teman ngampus saya tidak ada yang saya kasih tahu kalau saya ikutan
SBMPTN lagi) jadi kalau saya telat ngampus takutnya saya ketahuan ikutan SBMPTN
lagi hehehe. Intinya dalam hal mengerjakan soal-soalnya yang kedua ini asli
enjoy banget. Alhasil saya diterima di pilihan pertama.
Gambar hasil SBMPTN 2016
So, rekan-rekan sendiri dapat membedakan hasil yang didapatkan kan antara mengerjakan soal dengan perasaan panik sama tenang yaa.
Berdoa
Inilah sob usaha kita
terakhir setelah berikhtiar sedemikian rupa. Seperti kata pepatah yang bilang
bahwa
Usaha tanpa doa adalah kesombongan, dan doa tanpa usaha adalah kesia-siaan
Maka sempurnakanlah usaha kita dengan doa ya sob.
Oke itulah tips yang saya
dapat share (walaupun lebih ke pengalaman sih) mudah-mudahan bermanfaat bagi
rekan-rekan para pejuang SBMPTN hehehe.
Good luck SBMPTN nya sama
share pengalaman rekan-rekan di kolom komentar ya !
FYI:
SBMPTN 2015 saya ambil
soshum
SBMPTN 2016 saya ambil
saintek



Komentar
Posting Komentar